I'm your huckleberry

though i can't change the world, i can always change myself. btw: tolong bantu Panti Asuhan Bustanul Aitam (http://ulim-orphan.blogspot.com/ ). Bank BRI, Unit Meureudu, Cabang Sigli, Aceh, Indonesia// Account Number: 3970.01.002291.53-4// On behalf of: Yayasan Bustanul Aitam// Swift Code: BRINIDJA. Contact: Ilyas Ibrahim S.AG, mobile: +62-(0)81362672600

Wednesday, November 16, 2005

Field Monitoring

Saya memutuskan bekerja dengan United Nations Development Programme (UNDP), yaitu di bagian “Aceh Emergency Response and Transitional Recovery Programme” (ERTR), karena saya ingin bekerja dalam bidang development yang langsung berhubungan dengan masyarakat.

(Sebelumnya, saya berkeja untuk program development juga, yaitu di Asia Foundation. Program kerjanya lebih ke arah advokasi kebijakan ekonomi, khususnya aspek persaingan usaha, perijinan, dan regulasi.)

Apalagi kerjanya untuk masyarakat kampung halaman saya sendiri yang sangat memerlukan pengganti rumah, infrastruktur, dan kegiatan ekonomi yang hilang akibat tsunami/gempa bumi.

Dalam kepala saya, gambaran yang ada adalah: saya akan punya wewenang untuk memutuskan kegiatan apa, dimana, dan bagaimana implementasinya.

Ternyata, saya harus kecewa karena tugas saya hanya untuk melakukan monitoring and evaluation (monev, kata teman2). Artinya: saya hanya memeriksa dan melaporkan sejauh mana perkembangan program2 yg dilaksanakan oleh mitra2 UNDP (dalam kasus ini UN Habitat, Alisei, dan TDH).

Ada pun program2 utamanya adalah: kerja padat karya (cash for work), pemulihan ekonomi (economic livelihood recovery), dan pembangunan rumah.

Berikut ada dua foto dari kegiatan Field Monitoring yang saya lakukan.

Plus minus dari kerjaan sekarang dibandingkan dengan yg sebelumnya:
  1. plus: gaji lebih besar & biaya hidup lebih rendah (more saving lah), posisi lebih tinggi (Program Officer yang di posisikan menjadi “Area Manager”), dekat dengan keluarga (khususnya Nyokap), suasana kota kecil yang lebih tenang, kalau mau dugem aka ‘living after midnight’ pilihan paling banyak 3TA (tafakur, tadarus, tahajud), real direct to the community development work (compare to policy advocacy work), for sure less interaction with the bull’government’shit.

  2. minus: tidak ada wewenang untuk memutuskan program (hanya monev ingat), jalannya cuma disekitar Banda Aceh-Pidie-Bireun (dulu mencakup sekitar Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra), pilihan makanan minim: masakan Aceh artinya kari…kari…dan kari (mau Thai, Japan, Vietnam, Manado, Sunda, dll nggak ada), stress karena dikecam kiri-kanan-atas-bawah-depan-belakang (oleh penduduk dan juga keluarga sendiri. Ini ditandai oleh semakin seringnya saya mengeluarkan kata2 jak pap lemo = setubuhi lembu sana), dan tidak ada real dugem (Beng-beng Boom, Cendana, Black Russia, or any additional mix that necessary to make it happen). Yang paling parah: minim ekposur dari ce2 yang manis2 dan tidak boleh sembarangan peluk2 sayang plus cipiki-cipika, bisa2 ku kena cambuk terus :-((

Jadi lah saya sesekali menyanyi “You can’t always get what you want” (rolling stones).

0 Comments:

Post a Comment

<< Home