I'm your huckleberry

though i can't change the world, i can always change myself. btw: tolong bantu Panti Asuhan Bustanul Aitam (http://ulim-orphan.blogspot.com/ ). Bank BRI, Unit Meureudu, Cabang Sigli, Aceh, Indonesia// Account Number: 3970.01.002291.53-4// On behalf of: Yayasan Bustanul Aitam// Swift Code: BRINIDJA. Contact: Ilyas Ibrahim S.AG, mobile: +62-(0)81362672600

Monday, November 28, 2005

I love my coffee black and strong


I love my coffee black! Here is my almost complete perfection to a cup of coffee: selected bean (Excelso from PT Santos Jaya Abadi -also famous for its Kopi Kapal Api- or Aroma -of Jalan Banceuy Bandung), Braun coffee grinder, and a traditional Vietnamese coffee maker. For bean, I recommend Arabica of (old or aged) Sumatra Mandailing, Gayo Mountain, and Ethiopian Yirgacheffe. Perfect aroma you will get from any Aroma product which already store for over 5 years in special warehouse. As far my memory can take it, only Old Sumatra Mandheling of Coffee Club (Singapore franchise, available at Plaza Senayan) can compete with Aroma Sumatra Mandailing, though later is the winner in price.
Posted by Picasa

Thursday, November 24, 2005

Panti Asuhan Bustanul Aitam

Di Panti Asuhan Bustanul Aitam (Ulim, Pidie, sktr 164 Km dari Banda Aceh) kami menampung anak2 korban konflik, miskin, dan tsunami. Sebagian besar anak tersebut korban konflik; apakah orang tuanya meninggal karena peluru nyasar, dibunuh oleh TNI/Polri, maupun oleh GAM. Ada juga orang2 yang apa pun kondisi Aceh memang miskin. Paska tsunami, ada 5 anak tambahan. Secara keseluruhan ada sekitar 60 anak. Beberapa bukan penghuni tetap, melainkan titipan keluarga yang setiap saat bisa mengajak kembali anak yatim itu kerumahnya.

Yang ditampung sementara memang hanya sebagian dari anak yatim di kecamatan Ulim. Kapasitas kamar sudah penuh (lihat gambar: Kamar penuh sesak). Dan hanya anak pria, maklum pengurus terbatas dan semua pria. Ada pun umur anak-anaknya berkisar antara 10~18 tahun.

Selain panti asuhan, juga ada taman kanak-kanak ala kadar yang dikelola oleh 3 orang guru honorer yang bersedia dibayar ala kadar juga.

Secara makanan cukup terjamin, karena ada stok 6~7 ton beras sumbangan dari penduduk setempat. Beras itu sebagai cadangan untuk bertahan 8 bulan dengan makan nasi aja. Secara gizi memang masih kurang, karena tidak ada dana operasi yang memadai. Untuk pakaian, untung2-an ada yang nyumbang sarung, pakaian sekolah, dan pakaian lebaran. Biaya sekolah diusahakan dari penduduk sekitar plus negosiasi untuk dapat diskon dari sekolahnya. Perbaikan tempat tinggal tambal sulam, kalau ada atap bocor atau papan yang lapuk. Mudah2-an sekolah dasar sangat tua (dibangun 1968) yg dikonversi jadi panti asuhan ini tidak segera roboh :-(( .

Pemerintah ada juga kasih sumbangan, untuk 35 anak sebesar Rp 2250/hari/anak. Konyol kan, ada 60 anak yg dibantu cuma 35 dan besarnya tidak cukup untuk satu kali makan. Emang anak yatim cukup makan sekali sehari?

Rencana mau cari dana untuk bangun permanen. Tapi kemana? Coba minta sama teman2. Dulu banyak yang takut nyumbang dengan alasan takut diselewengkan buat mendukung GAM. Paska tsunami, tetap susah dapat sumbangan meskipun banyak donor lokal dan asing. Alasannya: bukan korban tsunami.

Gila, masa anak korban konflik harus kena tsunami dulu baru bisa dapat bantuan. Tega benar! Dimana2, anak yatim ya sama aja, tetap yatim, baik karena konflik atau tsunami atau alamiah.

Mudah2-an nantinya ada beberapa anak yg bisa sukses dan mengingat masa2 mereka di Bustanul Aitam dan bisa bantu saudaranya yang kurang beruntung.

Jadi teringat novel “The Insulted and Humiliated” dari Dostoevsky dengan sedikit pelesetan: Don't go to anyone, be alone and poor, and work, and if you can't get work, let me beg alms for you kids.

Akhirnya, buat yg mau berbagi rezeki & nyumbang, dapat di transfer via:
Bank BNI Cabang Sigli, Aceh, Indonesia
Nomor Rekening: 61093541
Rekening atas Nama: Ilyas IB/ Yayasan Bustanul Aitam
Swift Code: BNINIDJA
Kalau ada yang kebetulan ke Aceh & mau singgah, silahkan ke:
Yayasan Bustanul Aitam,
Jl Meunasah Krueng Keude Ulim
Jl Banda Aceh Medan KM 163, Aceh, Indonesia
Telpon: +62-(0)644-545057
Mobile: +62-(0)85260391971

Info lebih lanjut, silahkan hubungi saya via email or Yahoo Messanger rpidie.


Kamar penuh sesak
Posted by Picasa

Panti Asuhan Bustanul Aitam



Posted by Picasa


Tanggal 22 Nov 2005, setelah pulang dari acara peresmian proyek UNDP di Bireun (sktr 210Km dari Banda Aceh), saya mengajak advisor UNDP, Mubarak Ali, untuk mengunjungi panti asuhan (Bustanul Aitam) dimana saya menjadi salah seorang pengurus.
Posted by Picasa

Monday, November 21, 2005

Takeru Kobayashi

Hore!!!!!!! Takeru Kobayashi menang lagi. Dia berhasil makan sebanyak 69 burger dalam waktu 8 menit di kompetisi makan internasional “Krystal Square Off World Hamburger Eating Championship”. Koby bener2 juara bertahan. Maklum, dia juga sudah 5 tahun berturut2 (2001-2005) memegang gelar juara dunia Nathan's Hot Dog Eating Contest.

Ini orang emang gila makannya. Favorit ku lah. Sayang ku tak pernah berhasil makan menggila seperti dia. Pernah coba latihan makan cepat dan banyak. Hasilnya: rahang dan perut sakit, badan susah bergerak. Yang jelas, perut makin gendut dan berat badan naik dari 78 Kg ke 82 Kg. Tiap medical check up dokter memperingatkan masalah kolesterol. Rese tuh dokter!

Tapi ternyata Koby juga naik berat badannya, dari sekitar 50-an Kg di tahun 2003 menjadi 77Kg sekarang ini.

Well yg jelas cita2 lama untuk naik ke kelas berat 85 Kg sepertinya susah tercapai nih. Maklum, makanan di Aceh meskipun spicy dan banyak kari, tetap tidak ada variasi lain seperti makanan Thai, Jepang, Vietnam, dan India. Bagaimana pun variasi makanan ku perlukan sebagai booster menaikkan berat badan. Jadi teringat masa2 sukses menaikkan berat badan dari 56 ke 63 setelah kerja (1997-1998), selanjutnya malaju kencang dari 63 Kg ke 74 Kg selama di S’pore (1999-mid 2001), dan terus tambah lagi dari 74 Kg ke top 82 Kg selama di Asia Foundation yg sering ada acara makan kantor di buffet Gran Mahakam (2002-2003).

Ternyata sulit mempertahankan berat badan kalau pikiran dan gaya hidup kurang beres nih, drop deh ke 78 Kg & stabil.

Kadangkala, hidup ini emang menjadi lebih baik ketika fokus pada makanan dengan semboyan: makan is for the sake of makan!

More on Koby see:
Ini bukan kompetisi main2, ada kompetisi makan internasional dengan federasi-nya segala, lihat: The International Federation of Competitive Eating, Inc.

Wednesday, November 16, 2005

Field Monitoring

Saya memutuskan bekerja dengan United Nations Development Programme (UNDP), yaitu di bagian “Aceh Emergency Response and Transitional Recovery Programme” (ERTR), karena saya ingin bekerja dalam bidang development yang langsung berhubungan dengan masyarakat.

(Sebelumnya, saya berkeja untuk program development juga, yaitu di Asia Foundation. Program kerjanya lebih ke arah advokasi kebijakan ekonomi, khususnya aspek persaingan usaha, perijinan, dan regulasi.)

Apalagi kerjanya untuk masyarakat kampung halaman saya sendiri yang sangat memerlukan pengganti rumah, infrastruktur, dan kegiatan ekonomi yang hilang akibat tsunami/gempa bumi.

Dalam kepala saya, gambaran yang ada adalah: saya akan punya wewenang untuk memutuskan kegiatan apa, dimana, dan bagaimana implementasinya.

Ternyata, saya harus kecewa karena tugas saya hanya untuk melakukan monitoring and evaluation (monev, kata teman2). Artinya: saya hanya memeriksa dan melaporkan sejauh mana perkembangan program2 yg dilaksanakan oleh mitra2 UNDP (dalam kasus ini UN Habitat, Alisei, dan TDH).

Ada pun program2 utamanya adalah: kerja padat karya (cash for work), pemulihan ekonomi (economic livelihood recovery), dan pembangunan rumah.

Berikut ada dua foto dari kegiatan Field Monitoring yang saya lakukan.

Plus minus dari kerjaan sekarang dibandingkan dengan yg sebelumnya:
  1. plus: gaji lebih besar & biaya hidup lebih rendah (more saving lah), posisi lebih tinggi (Program Officer yang di posisikan menjadi “Area Manager”), dekat dengan keluarga (khususnya Nyokap), suasana kota kecil yang lebih tenang, kalau mau dugem aka ‘living after midnight’ pilihan paling banyak 3TA (tafakur, tadarus, tahajud), real direct to the community development work (compare to policy advocacy work), for sure less interaction with the bull’government’shit.

  2. minus: tidak ada wewenang untuk memutuskan program (hanya monev ingat), jalannya cuma disekitar Banda Aceh-Pidie-Bireun (dulu mencakup sekitar Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra), pilihan makanan minim: masakan Aceh artinya kari…kari…dan kari (mau Thai, Japan, Vietnam, Manado, Sunda, dll nggak ada), stress karena dikecam kiri-kanan-atas-bawah-depan-belakang (oleh penduduk dan juga keluarga sendiri. Ini ditandai oleh semakin seringnya saya mengeluarkan kata2 jak pap lemo = setubuhi lembu sana), dan tidak ada real dugem (Beng-beng Boom, Cendana, Black Russia, or any additional mix that necessary to make it happen). Yang paling parah: minim ekposur dari ce2 yang manis2 dan tidak boleh sembarangan peluk2 sayang plus cipiki-cipika, bisa2 ku kena cambuk terus :-((

Jadi lah saya sesekali menyanyi “You can’t always get what you want” (rolling stones).


Field Monitoring on Terre des Hommes Italy "Cash For Work" program, Bireun (240Km from Banda Aceh), 15 Nov '05.
Posted by Picasa


Field Monitoring on UN Habitat house construction program, Peurade-Pidie (140 KM from Banda Aceh), 8 Nov '05.
Posted by Picasa

Monday, November 14, 2005

Teman Seperjalanan


Lebaran hari kedua, jumat, 4 Nov '05. Berniat lebaran di kampung halaman, Ulim, sktr 165KM dari Banda Aceh. Kendaraan umum, biasa Minibus Mitsubishi L300, sangat sedikit dan penuh terus. Akhirnya ngobrol ama supir truk barang yg kebetulan menuju arah yg sama, yaitu Beureunun (KM125). Numpang lah di bak truk bersama dua orang lain. Yang jelas sangat tidak nyaman, meskipun sampe dengan selamat :-) .

Posted by Picasa

On pot, coke, & ice

One way or another there is always a pro & con on pot, coke, ice, and such a thing. See for example: www.medicalmarijuanaprocon.org and www.ecstasy.org .

My respond, in one way or another, always point to what rock or metal music group shout out.

You may choose Black Sabbath road (Sweet Leaf, N.I.B, Snowblind) or Gun ‘N Roses way (Brownstone).

The best choice is from Motorheads’ Overkill album: STAY CLEAN !
Nice live opening statement: "This is a song about staying clean!! It means in all things you do, not necessarily washing your legs! The upshot is that if you stay clean they can't ever get you, at least not easily!"

Saturday, November 12, 2005

Nigerian Scam dan Donasi Bencana Tsunami

Saya baru menerima email Nigerian Scam yang mendompleng pengembalian dana donasi untuk tsunami dari lembaga internasional Medecins Sans Frontieres.

Memang dalam setiap kesusahan manusia, selalu ada orang yg mencari untung. Dan ternyata peristiwa tsunami menjadi bahan baku yang sangat baik bagi scam2 yang mereka coba lancarkan.

Beberapa hari setelah tsunami, langsung penipu2 bergerak mencari mangsa. Lihat berita/info berikut:
Sampai hari ini pun mereka masih bergerak mencari mangsanya.

Untuk yang tidak tahu apa itu 419 Nigerian scam, lihat:

Rz
= =  = =
419 Nigerian Scam Email on Tsunami Donation Reimbursement

Date:     Fri, 11 Nov 2005 20:22:59 +0100 (MET)
From:     "Msf charity" <msf_charityhome@gmx.de>   Add to Address Book   Add Mobile Alert To:     
Subject:     Sense titol

Good Day,

I am writing you in respect of the GLOBAL relief agency Medecins Sans Frontieres Charity Organization reimbursement donors campaign worldwide.

The Organization is refunding back to donors their money out of the surplus 83 million euros they want to return to all donors who refused the Charity's offer to redirect their donations to lower profile cases like
Sudan or the Democratic Republic of the Congo.

Please check the web link below for more information:

Charity returns tsunami money
http://www.heraldsun.news.com.au/

I am soliciting for your kind co-operation, to act as one of those that have donated funds to this charity organization and would want his/her fund return back to him/her so that part of this surplus 83 million euros will be reimbursed to you for us to share.

Upon your acceptance, reply me through my personal mailbox: (robert_anderson@accountant.com) for details. And I will send you backing documents issued to those who donated to victims of tsunami through MSF to enable the Organization reimbursed you with part of these surplus funds they are returning. In regards to your agreement with me, I will inform you on your percentage for your assistance.

Best Regards,

Robert Oliver Anderson
Account Officer,
Medicines Sans Frontieres Charity Home.
--
Lust, ein paar Euro nebenbei zu verdienen? Ohne Kosten, ohne Risiko!
Satte Provisionen für GMX Partner: http://www.gmx.net/de/go/partner

Friday, November 11, 2005

Makan 1 : Nasi Campur Bali

Mau makan yang pedes, lezat, dengan perpaduan rasa gurih dan segar? Well, coba Nasi Campur Bali. Ada tiga tempat saya biasa makan nasi bali, yaitu: Ajengan, Bebek Bengil, dan Pondok Prapanca. Semuanya di daerah Jakarta Selatan, tepatnya Kebayoran Baru (kebetulan saya memang tinggal Kebayoran Baru). Selain itu, yg top juga Bebek Bali, di Taman Ria Senayan.

Setiap Nasi Campur Bali terdiri dari lauk ayam berbumbu (atau bebek), sate, sayuran, sambel, dan telur ayam/bebek. Masakan ayamnya bisa Be Siap Tutu (ayam dimasak dengan bumbu bali), Be Siap Pelalah (ayam bakar dengan bumbu pedas bali), atau Be Siap Sisit (daging ayam digoreng dan disuwir-suwir dicampur bumbu terasi). Kalau bebek, enaknya ya di goreng garing.

Satenya ada dua pilihan, Sate Tusuk Sapi atau Sate Lilit Ayam. Paling hanya ada dua tusuk sate di setiap satu porsi nasi bali. Kalau anda penggemar sate, siap2 memesan satu porsi tambahan untuk memenuhi rasa ingin tahu anda. Buat yang belum pernah makan sate bali, perhatikan bahwa sate bali tidak memakai bumbu kecap/kacang seperti sate biasanya. Bumbu sate bali adalah rempah2 yang langsung dicampur dengan daging dan kemudian dibakar. Sehingga bumbunya menyatu dan menyerap dalam daging sate.

Sebagai penikmat masakan daging; ayam, sate, dan telur lah yang membuat nasi bali sangat lezat. Apalagi dipadu dengan rasa bumbu yang tajam dan rasa pedas.

Sayuran biasanya Jukut Kalas, yaitu campuran kacang panjang dan toge dengan bumbu kacang. Bisa juga Urap, dengan variasi campuran daun singkong, kacang panjang, kol, toge, dan kelapa bumbu. Pelengkapnya adalah Be Pindang Sambel Matah (atau Sambel Matah aja), sambel yang lebih seperti sayuran bawang dicampur dengan daging ikan tongkol suwir dan irisan cabe. Dua lauk ini yang menimbulkan rasa segar bercampur gurih. Di Bebek Bali, sambelnya malah tiga macam. Muaantap!

Tentunya di masing2 tempat ada variasi. Bagi saya yang paling lengkap dan sesuai selera ada di Ajengan. Di Bebek Bengil, ada tambahan kacang kedele goreng dan emping. Dua pelengkap yang saya sukai juga, karena rasa gurihnya semakin rame.

Kemana mengajak kencan anda makan nasi bali?

Terus terang, Pondok Prapanca bukan pilihan terbaik. Tempatnya terpencil, dibelakang Apotik Prapanca, dari namanya jelas di Jalan Prapanca (Kalau anda dari arah Pasaraya Blok M, Apotik Prapanca ada di sebelah kiri anda, sebelum Kantor Walikota Jakarta Selatan). Kelemahan lain dari Pondok Prapanca adalah jalan sempit dan tempat parkir terbatas (repot jika membawa mobil nih), ruangannya sederhana, dan waktu masak yang lama. Harga memang yang termurah. Tapi jangan sampe anda ditinggalkan pacar karena dianggap pelit sehingga rela mengajak kencan di tempat yang kurang menarik. Oh ya…di Pondok Prapacanca ada dua pilihan nasi bali yaitu Nasi Shangrila (porsi lengkap, Rp 20.000 net) dan Nasi Rames Bali (Rp 15.000 net).

Ajengan (Rp 30.000, belum termasuk pajak dan pelayanan 10%), Bebek Bengil (Rp 26.000, belum termasuk pajak dan pelayanan 15%), dan Bebek Bali (Rp 43.900 + pajak dan pelayanan 20%) adalah tempat yang lebih baik untuk kencan.

Ajengan, seperti resto lain yang didirikan dilingkungan perumahan, lagi2 terbatas tempat parkirnya. Tapi suasana Ajengan benar2 menarik dengan arsitektur, perabotan kayu, dekorasi ukiran kayu, dan lukisan2 bernuansa Bali. Musik yang diputar juga musik Bali. Suasana privacy benar2 tercipta bila anda memilih posisi duduk agak kepojok, sangat romantis. Jangan lupa, pesan Brem Bali (Rp 15.000), untuk menenangkan perut setelah makan besar (brem ini juga kelebihan Ajengan, karena di dua resto lain tidak ada minuman dari hasil fermentasi beras khas bali ini).

Bebek Bengil, sebagaimana restoran di mall, suasana modern lebih dominan dan tidak ada dekorasi yang menarik. Aspek praktis menjadi pertimbangan juga. Lokasinya strategis untuk makan dan juga jalan-jalan sejenak. Apalagi bila anda mau melanjutkan kencan ke caffee, ada Tator atau Etcetera, dan lanjut dugem ke Centro atau La Dolce Vita.

Bebek Bali, hmmmm paling okay tempatnya. Cuma paling mahal juga. Seperti Bebek Bengil, letaknya juga strategis, setelah dinner banyak pilihan hiburan lain, mau lounge or billiard.

Selain nasi bali, tentunya banyak menu lain di keempat restoran tersebut, termasuk favorit saya adalah Bebek Goreng.

Ajengan, Jl. Panglima Polim I, No. 65, Jakarta Selatan, telpon: 021-7220227.
Bebek Bengil, Dharmawangsa Square - The City Walk, Lt. dasar, Jl. Dharmawangsa VI-IX, Jakarta Selatan, telpon 021-72788308.
Bebek Bali, Taman Ria Senayan, Jalan Gerbang Pemuda, Phone (021) 574 7224 or 7667.
Pondok Prapanca, Jl. Nipah XV No.3, Jakarta Selatan, telpon 021-722 1985.

Beberapa Link Tulisan Lama

Blog ini rencananya akan saya isi dulu dengan beberapa tulisan lama saya (era 2001-2003). Tapi saya kesulitan menemukan file tulisan2 tersebut.
Jadi saya putuskan memasang link tulisan yg di Indonesia Business online saja (www.ibonweb.com).
Saya versi bahasa Inggris di Ibonweb rada kacau, ya karena saya tidak pintar bahasa inggris, ya karena editornya kurang okay. Bahkan ada makna tulisan yg berubah gara2 diedit.

Will Rupiah Appreciation Continue? Ini tulisan versi Indonesia-nya dipublikasi di Koran Tempo (6 Agustus 2001), dgn judul “Prospek Nilai Tukar Rupiah”. Merupakan tulisan saya pertama di media, dibuat di tempat teman baik saya Hendra, di Puri Casablanca (ingat nggak Ndra, waktu itu gw nganggur nggak jelas, jadi semangat nulis).

Tulisan yg lain adalah “Catatan Kegagalan Program Stabilisasi Moneter Indonesia”, dipublikasi di Bisnis Indonesia (27 September 2001). Versi Indonesi ini lengkap dan ada grafiknya. Versi ringkasnya dalam bahasa inggris, muncul dengan judul "The Myth of Tight Monetary Policy". Salah satu tulisan terbaik, sampai pernah direposting di situs regional asia, www.asiafeatures.com (sayang ini situs udah mati).

Di awal 2003, saya diajak Bang Faisal untuk jadi narasumber di radio Delta (radio-nya orang2 tua nih). Bahasannya mengenai pertumbuhan ekonomi. Habis ngomong di radio, langsung semangat nulis. Jadi lah opini yg berjudul “Mengkritisi Pertumbuhan Ekonomi Paska Krisis” (Koran Tempo, 10 Maret 2003). Seperti biasa, rangkuman bhs inggrisnya diposting di Ibonweb dgn judul "Unsustainable Economic Growth".

Buat teman2 yg baca, jangan ragu2 mengkritik. Saya biasa kalo dapat kritikan, bagaikan mesin diesel yg panas: jadi lebih kencang mikirnya dan lebih produktif. Seperti yang selalu saya katakana kepada teman2: kalo saya masih nyela kamu, itu semata2 karena saya masih perhatian dan cinta ama kamu. Jadi bersyukur lah.... rz


dugemist pulang kampung
Posted by Picasa

Thursday, November 10, 2005


dinner @ mantra
Posted by Picasa

Situs saya: Aceh Links

Saya mulai mengenal internet tahun 1996/97. Tapi benar2 aktif di internet mulai 1998 dan semakin aktif di tahun 1999-2001, ketika kuliah di Singapura. Waktu itu saya aktif mempromosikan masalah pelanggaran hak asasi manusia di Aceh, khususnya dengan target mereka yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Karya pertama saya adalah sebuah halaman link berita, Aceh Links. Untuk memperbaiki format, saya membuat situs Aceh Links baru dengan menggunakan Microsoft Front page dan saya posting di Tripod. Karya lama saya masih bertahan pada peringkat 1~3 bila di google menggunakan kata kunci ‘aceh’.

Situs ini tidak di update dengan beberapa alasan:
  1. keterbatasan fasilitas internet ketika balik ke Jakarta

  2. notebook saya crash dan file2 Aceh Links rusak/hilang

  3. munculnya situs2 Aceh dalam bahasa Inggris yg jauh lebih bagus, misal Acheh Times (belakangan juga ada situs Aceh Kita versi Inggris – sudah tiada sejak September 2005)

Dengan semakin banyak berita mengenai Aceh dalam bahasa Inggris, maka nilai manfaat situs saya juga semakin menurun (in economic term: my private marginal cost larger than social marginal benefit, singkatnya MCprivate > MBsocial). Akhirnya saya membiarkan situs seperti apa adanya sejak pertengahan 2001.

Meskipun banyak yg protes karena banyak informasi baru mengenai Aceh, situs tidak saya tutup. Anggap saja sebuah kenang2-an. Lagipula, masih banyak yg suka kok, berhubung ada beberapa info menarik. rz

Wednesday, November 02, 2005

my blog @ friendster

Masih belajar pakai Blogger dan belum sempat memindahkan blog dari Friendster. Jadi lihat blog saya yg di Friendster. rz